Tuesday, February 17, 2015

Pengantar Ilmu Pendidikan: Pandangan Pendidikan, Aliran-aliran Pendidikan Klasik

Pengertian Pendidikan menurut beberapa ahli :



Friederich Wilhem Frobel (1782-1852)
Frobel merupakan salah seorang tokoh pendidikan anak yang banyak memberikan pengaruh dalam pemikiran baru (modern) dalam pengembangan anak usia dini,khususnya taman kanak-kanak. Pada tahun 1840 frobel meresmikan sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama kindergarten. Dari situ lah awal mula nama taman kanak-kanak.
Frobel memiliki prinsip tentang pendidikan anak, bahwa dalam pendidikan anak itu sebagai :
1). Pengembangan autoaktivitas, maksud nya adalah pendidikan yang berfungsi sebagai pengembang aktivitas. Pada dasar nya anak usia dini itu termasuk individu yang sangat aktif sekali dalam hal-hal kegiatan. Apabila terdapat anak yang belum menunjukan aktivitas, maka ia perlu didorong untuk aktif dalam melakukan berbagai kegiatan yang produktif. Jadi, dalam hal ini konteks pendidikan itu membuat anak selalu aktif dalam kegiatan.
2). Kebebasan atau suasana merdeka, maksudnya anak akan tumbuh dan berkembang apabila dia di berikan kesempatan dalam suasana yang bebas. Karena dari kebebasan itu lah anak akan mampu mengembang potensi yang telah ada di dalam dirinya. Tidak hanya itu juga dari kebebasan itu anak akan mengembangkan daya fantasi atau khayalannya dalam menciptakan sesuatu yang fantasi bagi anak. Misalnya, membuat keranjan buah yang terbuat dari kertas lipat, atau membuat tempat pensil dari botol bekas namun peralatan yang di butuhkan sudah disediakan oleh guru nya. Sehingga anak hanya tinggal membuat tempat pensil tanpa ada nya bahaya, dan karya-karya lain yang akan ia buat sesuai dengan apa yang telah ia bayangkan.
 Ki Hajar Dewantara (1922- )
Anak merupakan makhluk hidup yang memiliki kodrat nya masing-masing. Dewantoro merupakan seorang tokoh yang berasal dari Indonesia, berpandangan tentang pendidikan anak usia dini lebih menekankan pada apa-apa yang menjadi sebuah kodrat nya. Jika kodrat nya baik, maka hal lainnya pun akan baik; begitu pula sebaliknya.dan pendidik dalam pandangannya merupakan seorang yang membantu dalam menuntun pada kodratnya yang lebih baik lagi.
Jean-Jacques Rousseau (1712-1778)
Rousseau merupakan seorang tokoh naturalis, sehingga di dalam teori yang ia kemukakan tentang PAUD pun, teori tentang pendidikan yang dilakukan melalui pendekatan naturalistik. Menurut nya pendidikan naturalistik adalah pendidikan teraplikasikan dari pertumbuhan anak yang di biarkan secara alami tanpa membedakan anak satu dengan anak yang lainnya. mereka di biarkan untuk bereksplorasi secara bebas namun tetap aman, sedangkan orang dewasa hanya sebagai pendukung anak untuk berkembang secara alami dan membantu anak membangun kesiapan belajar.
John Dewey (1859-1952)
John Dewey, adalah seorang tokoh beraliran progesivisme yang hidup pada tahun 1859-1952. Disini ia mengemukakan pendidikan itu lebih kepada minat anak dalam hal pembelajaran yang penting oleh anak. Sehingga John Dewey ini dalam menentukan topik pembahasan dalam pembelajaran, dan penyusunan kurikulum itu dipusatkan pada anak. Kenapa ? karena minat anak lah yang menjadi suatu acuan bagi pendidikan yang John percaya. Cara pendidikan yang ia kemukakan untuk anak  yakni dengan cara pendidik harus lebih melibatkan anak dalam kegiatan-kegiatan yang sedang di lakukan. Agar anak dapat lebih menggerakan kegiatan fisik yang aktif untuk membantu perkembangan kemampuan intelektual. Kenapa kemampuan intelektual ? karena minat yang dimiliki oleh anak kelak akan menjadi suatu keahliannya dalam membangun kehidupan nya kelak. Sebagai contoh anak memiliki minat terhadap dunia tentara, setelah ia melihat ayahnya yang selalu disiplin dan tegas namun selalu terlihat gagah. Jika minat tersebut ia terus pertahankan maka ia pasti akan memilih pendidikan yang kiranya ia dapat menjadi seorang tentara. Entah itu ia akan bersekolah disekolah yang pengelolanya para tentara-tentaranya langsung atau hal lain sebagai nya, yang membuat pendidikan yang ia terima selama ia bersekolah menjadi sebuah keahliannya untuk menjadi seorang tentaranya. Tidak hanya dalam hal minat dewey memberikan teori nya akan pendidikan, tetapi Dewey juga mengemukakan bahwa interaksi anak juga sangat diperlukan untuk memperoleh pembelajaran dari lingkungannya.
MONTESSORI
Tokoh pendidikan anak usia dini, Montessori, mengatakan bahwa ketika mendidik anak-anak, kita hendaknya ingat bahwa mereka adalah individu-individu yang unik dan akan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Tugas kita sebagai orang dewasa dan pendidik adalah memberikan sarana dorongan belajar dan memfasilitasinya ketika mereka telah siap untuk mempelajari sesuatu. Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan masa-masa yang sangat baik untuk suatu formasio atau pembentukan. Masa ini juga masa yang paling penting dalam masa perkembangan anak, baik secara fisik, mental maupun spritual. Di dalam keluarga dan pendidikan demokratis orang tua dan pendidik berusaha memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan yang dibutuhkan oleh anak. Oleh karena itu, baik dan tepat bagi setiap orang tua dan pendidik yang terlibat pada proses pembentukan ini, mengetahui, memahami perkembangan anak usia dini. Tapi sekolah kita belum memiliki based line data yang holistik yang dapat memberikan berbagai informasi tentang perkembangan behavior dan kesulitan belajar anak terhadap berbagai subkompetensi materi sulit. Informasi ini sangat diperlukan untuk melakukan treatmen secara berjenjang tentang perkembangan anak sejak usia dini sampai mereka dewasa (SLTA).


Benang- benang Merah dari pandangan tentang Pendidikan

A.        J.H Pestalozi (John Hemrich Pestalozi)
 Dalam pendidikan terdapat beberapa beberapa hal diantaranya:
 1) Dasar Pendidikan : Dasar sosial, dasar psikologis.
2) Tujuan Pendidikan : Mempertinggi derajat rakyat dengan mengembangkan potensi jiwa anak secara wajar.
3) Isi Pendidikan : Anasir-anasir dalam pengajaran berupa: bunyi, bentuk dan bilangan.
4) Lembaga Pendidikan : Rumah kerja, rumah yatim piatu, lembaga pendidikan.
5) Metode Pendidikan : Azas peragaan dan azas perkembangan. 

 B. Friedrich Frobel (Jerman, 1782-1852)
 1) Dasar Pendidikan : Segala dunia ini merupakan unity dan deversity, perubahan ini kesatuan kepermacaman karena adanya aktivitet dan kreativitet.
 2) Tujuan Pendidikan : Perkembangan anak secara bebas.
 3) Isi Pendidikan : Bahan-bahan untuk latihan fungsi, motoris, sensoris dan bahasa.
4) Lembaga Pendidikan : Taman Kanak-kanak ”Casa dei Bambini”
5) Metode Pendidikan : Azas aktivitet, kebebasan dan kerja sendiri.

C. Marta Montessorl (Italia, 1870-1952, Tokoh Pendidikan Kanak-Kanak)
1) Dasar Pendidikan : Pembentukan sendiri, masa peka, kebebasan, perbedaan individual.
2) Tujuan Pendidikan : Perkembangan anak secara bebas.
3) Isi Pendidikan : Bahan-bahan untuk latihan fungsi motoris, sensoris dan bahasa.
4) Lembaga Pendidikan : Taman Kanak-Kanak ”Casa Dei Bambini”
5) Metode Pendidikan : Azas aktivitet, kebebasan dan kerja sendiri.


ALIRAN-ALIRAN KLASIK DALAM PENDIDIKAN

 

1.       Aliran Nativisme

Istilah Nativisme dari asal kata natives yang artinya terlahir. Nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang berpangaruh besar terhadap pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini adalah Arthur Schopenhauer(1788-1869), seoran filosofis Jerman. Airan ini identik dengan pesimistisyang memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam. Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah di tentukan oleh faktor-faktor yang di bawa manusia sejak lahir,pembawaan yang telah terdapat pada waktu lahir itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut aliran nativisme, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Dalam ilmu pendidikan pandangan seperti ini di sebut pesimistis pedagogis.
Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Bagi nativisme lingkungan lingkungan sekitar tidak mempengaruhi perkembangan anak, penganut aliran ini menyatakan bahwa kalau anak mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya kalau anak mempunyai pembawaan baik maka dia akan baik. pembawaan baik dan buruk ini tidak dapat di ubah dari luar.
Jadi menurut pemaparan di atas telah jelas bahwa pendidikan menurut aliran nativisme tidak bisa mengubah perkembangan seorang anak atau tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Karena menurut mereka baik buruknya seoang anak di tentukan oleh pembawaan sejak lahir, dan peran pendidikan di sini hanya sebatas mengembangkan bakat saja. Misalnya: seorang pemuda sekolah menengah mempunyai bakat musik, walaupun orang tuanya sering menasehati bahkan memarahinya supaya mau belajar, tapi fikiran dan perasaanya tetap tertuju pada musik dan dia akan tetap berbakat menjadi pemusik.

2.       Aliran Naturalisme

Nature artinya alam atau yang di bawa sejak lahir. Aliran ini di pelopori oleh seorang filusuf Prancis JJ. Rousseau(1712-1778). Berbeda dengan nativisme naturalisme berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan baik, dan tidak satupun dengan pembawaan buruk. Bagaimana hasil perkembangannya kemudian sangant di tentukan oleh pendidkan yang di terimanya atau yang mempengaruhinya. Jika pengeruh itu baik maka akan baiklah ia akan tetapi jika pengaruh itu jelek, akan jelek pula hasilnya. seperti dikatakan oleh tokoh aliran ini yaitu J.J. Rousseau sebagai berikut:”semua anak adalah baik pada waktu baru datang dari sang pencipta, tetapi semua rusak di tangan manusia”. Oleh karena itu sebagai pendidik Rousseau mengajukan “pendidikan alam” artinya anak hendaklah di biarkan tumbuh dan berkembang sendiri menurut alamnya, manusia atau masyarakat jangan banyak mencampurinya. Rousseau juga berpendapat bahwa pendidikan yang di berikan orang dewasa malahan dapat merusak pembawaan anak yang baik itu, aliran ini juga di sebut negativisme.
Jadi dengan kata lain pendidikan tidak diperlukan. Yang di laksanakan adalah menyerahkan anak didik kea lam, agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan itu. Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba di buat-buat sehingga kebaikan anak-anak yang di peroleh secara alamiyah sejak saat kelahirannya itu dapat berkembang secara sepontan dan bebas. Ia mengusulkan perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan pembawaannya, kemampuannya dan kecenderungannya.
Jadi menurut aliran ini pendidikan harus di jauhkan dari anak-anak, seperti di ketahui, gagasan naturalism yang menolak campur tangan pendidikan, sampai saat ini malah terbukti sebaliknya pendidikan makin lama makin di perlukan.

3.       Aliran Empirisme

Kebalikan dari aliran empirisme dan naturalisme adalah empirisme dengan tokoh utama Jhon Locke(1632-1704). Nama asli aliran ini adalah the school of british empirism(aliran empirisme inggris).
Doktrin aliran empirisme yang sangat mashur adalah tabula rasa, sebuah istilah bahasa latin yang berarti buku tulis yang kosong atau lembaran kosong. Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya. Sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir di anggap tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini para penganut empirisme menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong dan tak punya kemapuan apa-apa.
Aliran empirisme berpendapat berlawanan dengan aliran nativisme dan naturalisme karena berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali di tentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang di terimanya sejak kecil. Manusia-manusia dapat di didik menjadi apa saja(kearah yang baik maupun kearah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya. Dalam pendidikan pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme pedagogis.
Dari pemaparan dan contoh di atas jelas menurut pandangan empirisme bahwa peran pendidik sangat penting sebab akan mencetak anak didik sesuai keinginan pendidik. Tapi dalam dunia pengetahuan pendapat seperti ini sudah tidak di akui lagi, umumnya orang sekarang mengakui adanya perkembangan dari pengaruh pembawaan dan lingkungan. Suatu pembawaan tidak dapat mencapai perkembangannya jika tidak di pengaruhi oleh lingkungan.
Di samping itu orang berpendapat bahwa dalam batas-batas yang tertentu kita dilahirkan dengan membawa intelegensi. Di katakana dalam batas-batas tertentu karena sepanjang pengetahuan kita tahu bahwa intelegensi dapat kita kembangkan.

4.       Aliran Konvergensi

Aliran konvergensi merupakan gabungan dari aliran-aliran di atas, aliran ini menggabungkan pentingnya hereditas dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia, tidak hanya berpegang pada pembawaan, tetapi juga kepada faktor yang sama pentingnya yang mempunyai andil lebih besar dalam menentukan masa depan seseorang.
Aliran konvergensi mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkemangan manusia itu adalah tergantung pada dua faktor, yaitu: faktor bakat/pembawaan dan faktor lingkungan, pengalaman/pendidikan. Inilah yang di sebut teori konvergensi. (convergentie=penyatuan hasil, kerjasama mencapai satu hasil. Konvergeren=menuju atau berkumpul pada satu titik pertemuan).
Menurut William Stern(1871-1939), seorang anak di lahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun buruk. Bakat yang di bawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. sebaliknya lingkungan yang baik dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang di perlukan untuk pengembang itu. sebagai contoh pada hakikatnya kemampuan anak berbahasa dengan kata-kata, adalah juga hasil konvergensi. Pada anak manusia ada pebawaan untuk berbicara dan melalui situasi lingkungannya anak belajar berbicara dalam bahasa tertentu. Lingkungan pun mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan pembawaan bahasanya, karena itu anak manusia mula-mula menggunakan bahasa lingkungannya.

Karena itu teori W. Stern di sebut teori konvergensi(memusatkan ke satu titik). Jadi menurut teori konvergensi:
Ø  Pendidikan mungkin untuk di laksanakan
Ø  Pendidikan di artikan sebagai pertolongan yang di berikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.
Ø  Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.

Dari ketiga teori tersebut jelaslah bahwa semua yang berkembang dalam diri suatu individu di tentukan oleh pembawaan dan juga oleh lingkungannya. Seorang anak dapat berkata-kata juga di pengaruhi oleh dua faktor, pembawaan dan lingkungan. Jika salah satu dari kedua faktor itu tidak ada, tidaklah mungkin lepandaian berkata-kata dapat berkembang.


































7. Pandangan beliau dalam pendidikan awal kanak-kanak dikenali  sebagai naturalisme. Bagi Rousseau, naturalisme bermakna meninggalkan pengaruh masyarakat yang penuh dengan kepura-puraan. Hal ini bermakna, kanak-kanak di ajar tanpa sebarang pengaruh dari luar iaitu berlaku secara proses semula jadi dalam diri kanak-kanak. Menurut Rousseau, kanak-kanak dilahirkan tanpa mewarisi sebarang sikap-sikap yang buruk tetapi semula jadi yang baik. Alasan beliau pendidikan awal kanak-kanak seharusnya bertindak balas dengan perkara-perkara yang baik dan memberikan laluan kepada minat dan aktiviti yang spontan daripada kanak-kanak.
  Segala alat, usaha dan juga cara pendidikan harus sesuai dengan kodratnya.
2.      Kodratnya itu tersimpan dalam adat-istiadat setiap masyarakat dengan berbagai kekhasan, yang kesemuanya itu bertujuan untuk mencapai hidup tertib dan damai.
3.      Adat istiadat sifatnya selalu berubah (dinamis).
4.      Untuk mengetahui karakteristik masyarakat saat ini diperlukan kajian mendalam tentang kehidupan masyarakat tersebut di masa lampau, sehingga dapat diprediksi kehidupan yang akan dating pada masyarakat tersebut.
5.      Perkembangan budaya masyarakat akan dipengaruhi oleh unsur-unsur lain, hal ini terjadi karena terjadi pergaulan antar bangsa.
 

No comments:

Post a Comment