Tuesday, February 17, 2015

Kapita Selekta: Makalah latar belakang PAUD

Makalah Latar Belakang PAUD

BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah hak warga negara, tidak terkecuali pendidikan di usia dini merupakan hak warga negara dalam mengembangkan potensinya sejak dini. Berdasarkan berbagai penelitian bahwa usia dini merupakan pondasi terbaik dalam mengembangkan kehidupannya di masa depan. Selain  itu pendidikan di usia dini dapat mengoptimalkan kemampuan dasar anak dalam menerima proses pendidikan di usia-usia berikutnya.
Dengan terbitnya Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), keberadaan pendidikan usia dini diakui secara sah. Hal itu terkandung dalam bagian tujuh, pasal 28 ayat 1-6, di mana pendidikan anak usia dini diarahkan pada pendidikan pra-sekolah yaitu anak usia 0-6 tahun. Dalam penjabaran pengertian, UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisidiknas menyatakan bahwa:
   Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Berdasarkan data dari Direktorat Pembinaan TK dan SD, pada tahun 2007 sebagian besar pendidikan anak usia dini (PAUD) diselenggarakan oleh masyarakat (Swasta) yakni sekitar 98,7%. Sedangkan masalah utamanya adalah angka partisipasi kasar (APK) PAUD/TK  baru mencapai 26,68%. Selain itu, masalah yang timbul dalam penyelenggaraan PAUD adalah ekspektasi masyarakat yang terlalu tinggi terhadap aspek kemampuan kognitif siswa, padahal PAUD adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak usia dini, sehingga ia siap melaksanakan pendidikan di jenjang yang formal. Hal itu menunjukan bahwa pengembangan PAUD harus lebih ditingkatkan agar tujuan pendidikan secara umum dapat dicapai. Oleh karena itu peran serta masyarakat harus dipertahankan dan peran pemerintah dalam membina dan mengembangkan berbagai kebijakan tentang PAUD harus dioptimalkan.
Kajian terhadap keberadaan PAUD dalam sistem pendidikan nasional perlu banyak dilakukan, baik kajian terhadap aspek-aspek filosofisnya maupun aspek-aspek teknis, berupa kuirkulum maupun proses pembelajaran PAUD di lapangan. Melalui hal tersebut diharapkan pengembangan PAUD dapat lebih meningkat, demi menunjang tercapainya tujuan pendidikan, yakni mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Depdiknas, 2007).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menilai pengkajian terhadap masalah program PAUD perlu dilakukan berdasarkan kajian kepustakaan maupun pengalaman penulis dalam mengelola program PAUD.


B.      Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini, masalah yang dikaji akan dirumuskan dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut.
1        Bagaimana latar belakang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)?
2        Bagaimana konsep dasar  PAUD?


BAB II
PEMBAHASAN

1.         Definisi Pendidikan Usia Dini (PAUD)
Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, pasal 1, butir 14 dinyatakan bahwa “Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan ruhani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.
Sedangkan pada pasal 28 tentang pendidikan anak usia dini dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan atau informal.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. ( Adalilla, S, 2010)
PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan kecerdasan, daya pikir, daya cipta, emosi, spiritual, berbahasa/komunikasi, dan social (Hasan, 2009).
Pendidikan Anak Usia Dini merupakan pendidikan melibatkan seluruh anak mencakup kepedulian akan perkembangan fisik, kognitif, dan social anak. Pembelajaran diorganisasikan sesuai dengan minat-minat dan gaya belajar anak (Santrock, 2007)
2.         Tujuan PAUD
Secara umum, tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pendidikan anak pun bisa dimaknai sebagai usaha mengoptimalkan potensi-potensi luar biasa anak yang bisa dibingkai dalam pendidikan, pembinaan terpadu, maupun pendampingan.
3.         Fungsi PAUD
Fungsi pendidikan anak usia dini secara umum adalah :
1)   Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak
2)   Mengenalkan anak pada dunia sekitar
3)   Menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik
4)   Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi
5)   Mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan kemampuan yang dimiliki anak
6)   Menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan selanjutnya.


4.         Jenis Pelayanan PAUD
Dibanding dengang perkembangan model dan jenis PAUD di berbagai negara maju dan berkembang lainnya, PAUD di Indonesia memiliki keunikan khusus yang agak berbeda dengan di luar negeri. Karena di luar negeri PAUD pada umumnya hanya dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu Kindergarden atau Play Group dan Day Care, sedang di Indonesia menjadi 4 (empat) macam yaitu :
1)   Taman Kanak-Kanak (Kindergarten)
2)   Kelompok Bermain (Play Group)
3)   Taman Penitipan Anak (Day Care)
4)   PAUD sejenis (Similar with Play Group)
5.         Sistem Penyelenggaraan PAUD
Penyelenggaraan PAUD di negara lain semata-mata hanya menstimulasi kecerdasan anak secara komprehensif dan pengasuhan terhadap anak, karena aspek kecerdasan yang dikembangkan hanya meliputi kecerdasan intelektual, emosional, estetika, dan social serta pengasuhan. Sedang di Indonesia potensi kecerdasan tersebut diberikan juga pendidikan untuk mengembangkan potensi kecerdasan spiritual yang dilaksanakan melalui pendekatan olah pikir, olah rasa, dan olah raga. Di samping itu, juga diberikan pengetahuan dan pembinaan terhadap kondisi kesehatan dan gizi peserta didik. Oleh karena itu, penyelenggaraan PAUD di Indonesia disebut penyelenggaran PAUD secara “Holistik dan Integratif”

6.         Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam melaksanakan pendidikan anak usia dini, hendaknya menggunakan prinsip-prinsip berikut :
1)      Berorientasi pada kebutuhan anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi pada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi disemua aspek perkembangan baik fisik, intelektual, bahasa, motorik, dan sosioemosional. Berorientasi pada kebutuhan anak membuat pendidikan begitu menyenangkan. Anak akan menjadikan belajar sebagai kebutuhan pokoknya.
2)      Belajar melalui bermain
Bermain merupakan sarana belajar anak usia dini. Mulai bermain, anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpilan mengenai benda di sekitarnya. Dengan bermain anak berusaha memahami karakter teman-temannya, termasuk karakteristik orang dewasa disekitarnya. Bermain dan permainan bagi anak menjadi semacam air kehidupan yang begitu penting bagi kehidupan anak.
3)      Lingkungan yang kondusif
Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain. Pasalnya lingkungan yang kondusif akan mengajak anak untuk bisa memosisikan dirinya secara proporsional. Dia akan berusaha menjadi bagian dari teman-temanya.
4)      Menggunakan pembelajaran terpadu
Pembelajaran terpadu bisa dikatakan sama dengan pembelajaran yang sesuai dengaan potensi dan bakat anak. Oleh karenanya, pendidikan dengan model pengelompokkan anak-anak yang dianggap pandai dalam ruangan tertentu membuat anak tidak bisa berkembang maksimal, khususnya pada aspek social emosional.
5)      Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
Mengembangkan keterampilan hidup dapat dialkukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri, bertanggung jawab, serta memiliki disiplin diri. Mengembangkan berbagai kecakan hidup juga akan mengajak anak untuk senantiasa kreatif dalam setiap langkah yang dipilih atau masalah yang menghadang.
6)      Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar
Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik  atau guru. Renik-renik disekitar kita bisa dijadikan bahan ajar yang begitu mempesona anak-anak didik. Hal ini karena renik-renik tersebut juga dekat dengan dunia anak, sehingga anak akan menikmati sumber belajar itu.

7)      Dilaksanakan secara bertahap dan berulang-ulang
Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya disajikan secara berulang. Kebertahapan dalam pendidikan membuat anak bisa menangkap makna atas apa yang diberikan. Pengulangan yang dilakukan membuat anak kianmelakukan kristalisasi atas pelajaran dan transfer ilmu serta nilai yang dilakukan.
7.         Komponen Kurikulum PAUD
1.    Anak
Sasaran layanan pendidikan anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun. Pengelompokkan anak tersebut didasarkan pada usia sebagai berikut :
1)     0-1 tahun
2)     1-2 tahun
3)     2-3 tahun
4)     3-4 tahun
5)     4-5 tahun
6)     5-6 tahun
2.    Pendidik
Kompetensi pendidik anak usia dini memiliki kualifikasi akademik sekurang-kurangnya Diploma Empat atau Sarjana dibidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi, daan memiliki sertifikasi profesi guru PAUD, atau sekurang-kurangnya telah mendapat pelatihan pendidikan anak usia dini. Adapun rasio pendidik dan anak sekolah sebagi berikut :
1)     Usia 0-1 tahun, rasio 1 : 3 anak
2)     Usia 1-3 tahun, rasio 1 : 6 anak
3)     Usia 3-4 tahun, rasio 1 : 8 anak
4)     Usia 4-6 tahun, rasio 1 : 10-12 anak
3.    Pembelajaran
Pembelajaran dilakukan melalui kegiatan bermain yang dipersiapkan oleh pendidik dengan menyipakan materi (content) dan proses belajar. Materi belajar bagi anak usia dini dibagi dalam dua kelompok usia. Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut.
Materi usia lahir sampai usia 3 tahun meliputi hal-hal berikut :
1)   Pengenalan diri sendiri
2)   Pengenalan perasaan
3)   Pengenalan tentang orang lain
4)   Pengenalan berbagai gerak
5)   Mengembangkan komunikasi
6)   Keterampilan berpikir
Materi untuk anak usia 3-6 tahun meliputi hal-hal berikut :
1)   Keaksaraan, yang mencakup peningkatan kosakata dan bahasa, serta percakapan
2)   Konsep matematika yang mencakup pengenalan angka-angka, pola-pola dan hubungan.
3)   Pengetahuan alam yang lebih menekankan pada objek fisik, kehidupan bumi, dan lingkungan
4)   Pengetahuan social yang mencakup hidup orang banyak, bekerja, berinteraksi dengan orang lain.
5)   Seni yang mencakup menari, music, bermain peran, menggambar, dan melukis.
6)   Teknologi yang mencakup alat-alat dan penggunaan teknologi yang digunakan dirumah atau sekolah
8.         Layanan Program
Lembaga pendidikan anak usia dini dilaksanakan sesuai dengan satuan pendidikan masing-masing. Pada bagian ini, dijelaskan tentang waktu-waktu yang digunakan dalam pendidikan prasekolah secara umum, jadi tidak hanya mengacu pada pendidikan di TK-PAUD.
Adapun jumlah hari dan jam layanan sebagai berikut:
1)        Taman penitipan anak (TPA) dilaksanakan 3-5 haridengan layanan minimal 6 jam.
2)        Kelompok bermain (KB) setiap hari atau maksimal 3 kali seminggu dengan jumlah jam minimal 3 jam.
3)        PAUD minimal satu minggu sekali dengan jam layanan minimal 2 jam
4)        Taman kanak-kanak dilaksanakan minimal 5 hari setiap minggu dengan jam layanan minimal 2,5 jam
9.         Tantangan Prioritas Pendidikan PAUD
Sampai saat ini masi ada beberapa masalah yang dapat menghambat perluasan kesempatan dan pemerataan akses mengikuti PAUD serta peningkatan mutu PAUD di Indonesia, namun semua itu kita anggap sebagai tantangan yang menarik sehingga untuk mengatasinya diperlukan kreatifivitas dan inovasi yang berkelanjutan.
1)   Jumlah anak yang belum mengikuti PAUD masih cukup besar.
2)   Sarana dan prasarana belajar secara kuantitatif maupun kualitatif masih terbatas, hal ini disebabkan oleh terbatasnya kreativitas guru PAUD untuk menciptakan dan mengembangkan metode pembelajaran dan sumber belajar dengan memanfaatkan potensi budaya dan alam sekitar.
3)   Kompetensi sebagian besar guru PAUD masih belum memadai karena       sebagian besar dari mereka tidak berasal dari latar belakang pendidikan           PAUD dan mereka belum memperoleh pelatihan yang berkaitan dengan    konsep dan ilmu praktis tentang PAUD.
4)   Perbedaan Angka Partisipasi Kasar (APK) peserta PAUD di daerah perkotaan dan perdesaan masih sangat besar.
10.         Target APK-PAUD 2014
Pada tahun 2004 tercatat bahwa jumlah APK-PAUD baru mencapai 12,7 juta (27%) dan tahun 2008 APK-PAUD telah mencapai 15,1 juta (50,6%) serta diharapkan pada tahun 2009 akan mencapai 15,3 juta (53,6%). Berdasarkan kondisi tersebut pemerintah telah menetapkan rencana 5 tahun ke depan APK-PAUD diharapkan mencapai 21,3 juta (72,6%). Secara bertahap harapan untuk mencapai jumlah APK-PAUD tersebut terlihat pada Tabel 1.
Tabel    1.1
Target Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia Tahun 2010 - 2014
Target / Sasaran
Tahun Pencapaian Target
2010
2011
2012
2013
2014
Estimasi Jumlah Anak Usia 0-6 th
30,18 Juta
30,2 Juta
30,3 Juta
30,35 Juta
30,4 Juta
Target Sasaran PAUD (Formal & Nonformal)
17,4 Juta (57,8%)
18,7 Juta (61,8%)
19,9 Juta (65,7%)
21 Juta (69,3%)
22,1 Juta (72,6%)
Target PAUD Formal
5,8 Juta (19,3%)
5,85 Juta (19,37%)
5,9 Juta (19,5%)
5,95 Juta (19,6%)
6 Juta (19,7%)
Target PAUD Nonformal
11,6 Juta (38,5%)
12,85 Juta (42,43%)
14 Juta (46,2%)
15,05 Juta (49,7%)
16,1 Juta (52,9%)

11.         Peran Serta Masyarakat
Pelaksanaan pendidikan anak usia dini hendaknya dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan anak usia dini dapat dilakukan oleh swasta dan pemerintah, yayasan maupun perorangan. Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa masyarakat harus dilibatkan dalam proses pembimbingan anak.
Alasan terkait pelibatan masyarakat adalah karena sepulang dari sekolah anak-anak akan kembali ke masyarakat. Meminta masyarakat untuk ikut pula mengawasi perkembangan atau perilaku anak ketika dia berada dimasyarakat. Dengan kata lain, menjadikan masyarakat sebagai rekan kerja. Apabila ini terjadi sinergi yang begitu mengagumkan antara pendidik, sekolah, dan pihak masyarakat, dan ini sangat membantu proses pembelajaran.

12.       Evaluasi
            Menurut M. Hariwijaya (2007:122), evaluasi adalah suatu analisis yang sistematis dan bekesinambungan untuk melihat efektivitas program yang diberikan dan pengaruh program tersebut pada anak. Dalam hal ini evaluasi mencakup evaluasi anak didik maupun evaluasi terhadap program pembelajaran secara keseluruhan.
Kegiatan evaluasi perlu dilakukan untuk melihat perkembangan potensi anak dalam kegiatan pembelajaran. Evaluasi setidaknya diarahkan pada tiga aspek, yaitu: aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perilaku/sikap) dan psikomotorik (keterampilan). Sehingga kegiatan evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan pendidikan anak usia dini, sebagaimana yang tercantum dalam PP No. 27 Tahun 1990 mengenai Pendidikan prasekolah, yaitu meletakan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan dan keterampilan serta daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.

13.        Prinsip-prinsip Evaluasi PAUD
            Berikut adalah beberapa prinsip dalam kegiatan evaluasi pendidikan anak usia dini, antara lain:
a.                   Menyangkut semua aspek perkembangan, baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.
b.                   Dilakukan secara berkesinambungan dan terus menerus
c.                   Mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Sehingga dapat diketahui mana tujuan yang tercapai mana tujuan yang kurang tercapai.
d.                   Penilaian dilakukan secara objektif dan tidak berat sebelah.
e.                   Memberi makna bagi anak. Penilaian dilakukan untuk memberi makna yang positif bagi anak, tidak menghakimi tetapi mampu mendorong agar anak dapat berkembang lebih baik.
f.                    Mendidik, artinya penilaian dilakukan dalam koridor pendidikan dan berdampak positif bagi perkembangan anak.

14.       Tujuan Evaluasi PAUD
            Tujuan dilaksanakan kegiatan evaluasi PAUD antara lain adalah:
a.                   Untuk memantau perkembangan anak, baik perkembangan dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.
b.                   Untuk mengetahui kesulitan belajar anak. Melalui kegiatan ini dapat diketahui dalam aspek-aspek apa saja anak mengalami kesulitan belajar, sehingga dengan cepat dapat diketahui cara penyelesaiannya.
c.                   Untuk melakukan penempatan, yaitu dengan mengetahui bakat, minat dan kemampuan anak. Hasil dari penilaian itu, pendidik dapat menentukan dalam kelompok mana anak tersebut ditempatkan.
d.                   Sebagai pertanggungjawaban pendidik, baik pertanggungjawaban terhadap profesi pendidik maupun kepada orang tua anak.


15.       Teknik Evaluasi Pembelajaran Anak Usia Dini
            Terdapat beberapa teknik evaluasi pembelajaran anak usia dini, di antaranya adalah:
a.                   Observasi
Observasi adalah suatu cara pengumpulan data yang penilaiannya berdasarkan pengamatan langsung maupun tidak langsung pendidik terhadap sikap dan perilaku anak dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, terdapat beberapa prinsip dasar teknik observasi, yaitu:
1.      Observasi harus dilakukan sesuai dengan tujuan pembelajaran
2.      Harus direncanakan terlebih dahulu secara sistematis
3.      Hasil observasi dicatat dan dipilih sesuai tujuan pembelajaran
4.      Data observasi harus valid, realibel, dan teliti.
5.      Observasi harus dapat dikuantifikasikan.
b.                   Catatan Anekdot
Catatan anekdot adalah kumpulan catatan mengenai sikap dan perilaku anak dalam situasi tertentu di dalam maupun di luar kelas, baik yang bersifat positif maupun negatif. Jenis evaluasi ini biasanya digunakan untuk menilai hal-hal yang sifatnya non-akademis dan didasari oleh latar belakang informasi tertentu yang telah diketahui oleh pendidik.
Kegunaan catatan enekdot adalah:
1.      Mengetahui bahwa anak merupakan individu
2.      Mengetahui sebab suatu tingkah laku yang ditunjuk oleh anak
3.      Mengembangkan cara menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi anak dalam kegiatan belajarnya.


16.       Waktu Evaluasi
            Dalam pembelajaran anak usia dini, kegiatan evaluasi dapat dilaksanakan seaktu-waktu selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil evaluasi tersebut biasanya diberikan saat pembelajaran semester berakhir. Dalam hal ini, pendidik tidak harus membuat kegiatan tes atau ujian tersendiri, evaluasi selama kegiatan pembelajaran merupakan hal yang dianjurkan agar pendidik mampu mengikuti perkembangan anak dan mampu membedakan tahap-tahap perkembangan anak yang satu dengan yang lainnya.
            Beberapa hal yang harus diperhatikan pendidik dalam melaksanakan evaluasi adalah sebagai berikut.
a.                   Segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan penilaian harus sudah dipersiapkan sejak awal, seperti lembar observasi, hasil karya anak, bahan penugasan, dan sebagainya.
b.                   Menciptakan situasi yang nyaman bagi anak, sehingga anak tidak mengetahui bahwa ia sedang dinilai agar hasil penilaian benar-benar objektif.
c.                   Penilaian harus bersifat adil dan tidak pilih kasih dalam menilai.
d.                   Pencatatan dan pengolahan data harus dilakukan secara teliti, cermat dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.







BAB III
PENUTUP

1.  Kesimpulan
Dari uraian bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
a.       Sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pendidikan anak usia dini  adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut
b.       Hakekat dari program pendidikan anak usia dini adalah bahwa anak usia dini merupakan usia emas dalam perkembangan intelektual dan moralnya, sehingga pendidikan di usia ini harus diarahkan pada upaya menggali dan merangsang potensi dan kreativitasnya secara optimal.
c.       Komponen pendidikan anak usia dini, meliputi standar kompetensi anak usia dini, kurikulum dan penilaian.
2.     Saran
Dari uraian di atas, maka penulis dalam hal ini mengajukan beberapa saran antara lain.
a.                   Perlu adanya pengembangan yang lebih optimal terhadap pendidikan anak usia dini, baik yang dilakukan oleh pemerintah, keluarga maupun masyarakat. Masa prasekolah yang disebut dengan masa keemasan perkembangan intelektual seharusnya dijadikan dasar bagi upaya meningkatkan kemajuan pendidikan di Indonesia.
b.                   Sosialisasi tentang pentingnya pendidikan anak usia dini harus terus dilakukan, karena berdasarkan data yang ada angka partisipasi kasar masyarakat terhadap pendidikan anak usia dini masih sangat rendah.
c.                   Kualifikasi pendidik anak usia dini harus terus ditingkatkan baik kualifikasi akademisnya maupun dalam bentuk pelatihan dan penataran lainnya.




DAFTAR PUSTAKA

Adallila, S. 2010. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini.http://sadidadallila.wordpress.com (diakses 17 Mei 2011)
Ahmad, Rofiq. 2008. Perkembangan Menurut DDST II.http://rofiqahmadwordpress.com (diakses 18 Mei 2011)
Alimul, Aziz. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika: Jakarta
Arikunto. S, 2003. Prosuder Penelitian. Rineka: Jakarta
Aspi, J. 2010. Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia dan Target Capaian PAUD. http://www.tunasbangsaku-tk/. (diakses 9 Mei 2011)
Benyamin, S. 2010. Penelitian Profesor Bloom Pendidikan Anak Usia Dini. PustakaNila: Jakarta
Dirjen PNFI. 2009. Depdiknas Siapkan Standarisasi PAUD.http://www.aspijatim.blogspot.com (diakses 9 Mei 2011)
Fakhruddin, A.U. 2010. Sukses menjadi Guru TK-PAUD. Bening. Yogyakarta
Hasan, M. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Diva Press. Yogyakarta
Hasan, Iqbal. 2010. Analisa Data Penelitian Dengan Statistik. Bumi Aksara: Bandung
Iqbal, Nila. 2010. Pendidikan Anak Usia Dini. http://belajar-membaca.com/pendidikan-anak-usia-dini/ (diakses 26 Juli 2011)
Kharimaturrohmah. 2009. Laporan UNESCO Mengenai Pendidikan Untuk Semua. http://www.fpaudi.org/index. (diakses 17 Mei 2011)
Nursalam, 2003. Konsep Ilmu Keperawatan Pedoman Skirpsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta
Notoatmojo, S. 2005. Prosuder Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta: Jakarta
Potter  & Perry, 2005. Perkembangan Anak. EGC: Jakarta
Santoso, Heru. 2009. Petunjuk Praktis Denver Developmental Screening Test.    EGC: Jakarta 
Santrock, J.W. 2002. A Tropical Approuch to Life-Span Development          Perkembangan Masa Hidup. Boston, Mc. Graw Hill
Santrock, J. W. 2007. Perkembangan Anak. Boston, Mc. Graw Hill
Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. EGC: Jakarta
Sugiyono. 2006. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta: Bandung

No comments:

Post a Comment